Pengalaman Nonton Bareng Anak di Bioskop: The SpongeBob The Movie di Bencoolen Mall XXI

Hari Sabtu pagi itu terasa sedikit berbeda dari biasanya. Sejak bangun tidur, anakku sudah terlihat antusias. Meski belum banyak bertanya, dari matanya kelihatan jelas ada rasa penasaran dan senang. Hari itu kami berencana nonton film The SpongeBob Movie di Bencoolen XXI, dan ini adalah kali kedua anakku masuk bioskop sepanjang hidupnya. Sebuah pengalaman sederhana, tapi buatku sangat berkesan.
Kami berangkat agak santai karena jadwal film siang, pukul 12.55. Sampai di mall, suasana sudah cukup ramai. Ternyata banyak juga keluarga lain yang punya rencana serupa: menghabiskan akhir pekan dengan nonton film bersama anak-anak. Begitu sampai di area bioskop, antrian loket tiket sudah mengular. Tidak sebentar, butuh beberapa menit untuk akhirnya bisa sampai ke depan. Anak mulai gelisah, tapi bukan karena bosan—dia justru sibuk mengamati sekitar.
“Bunda, itu orang-orang mau ngapain?” tanyanya polos sambil menunjuk antrian.
“Mereka mau nonton film juga, kayak kita,” jawabku.
Saat menunggu giliran membeli tiket, aku merasa sedikit nostalgia. Dulu, antri tiket bioskop terasa biasa saja. Tapi sekarang, ketika mengajak anak, antrian itu jadi bagian dari cerita. Ada kesabaran yang diuji, ada rasa antusias yang ditahan. Akhirnya tiket di tangan juga: The SpongeBob Movie, studio 5, barisan B. Anak langsung melihat kertas tiket itu seperti benda berharga.
Masuk ke dalam studio, anakku langsung terdiam sejenak. Matanya menyapu seluruh ruangan. Lampu masih menyala, layar besar terlihat kosong, dan bangku-bangku tersusun rapi dari bawah hingga ke atas. Lalu pertanyaan pertama pun keluar.
“Bunda… kenapa bangkunya makin ke atas makin tinggi?”
Aku tersenyum. Pertanyaan yang mungkin terdengar sepele, tapi baginya itu hal baru. Aku jelaskan pelan-pelan bahwa bangku dibuat bertingkat supaya semua orang bisa melihat layar dengan jelas, tidak tertutup kepala orang di depan. Dia mengangguk, meski raut wajahnya masih tampak berpikir.
Kami duduk di kursi, dan tak lama kemudian lampu mulai diredupkan. Anak langsung menoleh ke arahku dengan mata membesar.
“Kenapa lampunya dimatiin?”
“Supaya kita bisa fokus ke filmnya, biar layarnya kelihatan jelas,” jawabku sambil menggenggam tangannya.
Dia terlihat sedikit kaget, tapi bukan takut. Lebih ke heran. Dunia bioskop memang penuh hal baru untuk anak seusianya. Suara yang lebih keras dari TV rumah, layar yang sangat besar, dan suasana gelap yang berbeda.
Begitu film dimulai, tawa anakku mulai terdengar. SpongeBob dengan tingkah konyolnya sukses menarik perhatian. Kadang dia tertawa sendiri, kadang menepuk lenganku sambil berkata, “Itu lucu banget!” Ada juga momen ketika dia bertanya tentang cerita di layar, memastikan dia memahami apa yang sedang terjadi.
Selama film berlangsung, anakku benar-benar ceriwis. Dia berkomentar tentang karakter, menirukan suara SpongeBob, bahkan sesekali bertanya, “Abis ini ngapain lagi?” Aku tidak memarahinya. Aku tahu ini bagian dari proses. Dia sedang belajar menikmati pengalaman baru, dengan caranya sendiri.
Aku justru menikmati setiap pertanyaannya. Karena dari situ aku tahu, dia tidak sekadar duduk dan menonton, tapi benar-benar terlibat. Dunia imajinasinya bekerja. Rasa penasarannya tumbuh. Dan aku, sebagai orang tua, ada di sampingnya untuk menemani dan menjelaskan.
Film The SpongeBob Movie sendiri terasa ringan dan menghibur. Ceritanya lucu, penuh warna, dan mudah dipahami anak-anak. Beberapa adegan juga membuatku tertawa, meski mungkin alasan lucunya berbeda dengan anakku. Tapi itulah serunya nonton bareng: tertawa di waktu yang sama, meski dengan sudut pandang yang berbeda.
Sesekali aku melirik wajah anakku. Di bawah cahaya layar, ekspresinya terlihat begitu hidup. Matanya berbinar, mulutnya tersenyum lebar. Rasanya capek antri, capek berdesakan, semuanya terbayar lunas.
Saat film selesai dan lampu kembali menyala, anakku terlihat masih ingin berlama-lama. Dia melihat sekeliling lagi, seakan memastikan semua yang tadi gelap kini kembali terang.
“Bunda, besok nonton lagi ya,” katanya ringan.
Aku tertawa kecil. Mungkin baginya, bioskop sekarang bukan lagi tempat asing. Pengalaman keduanya ini terasa lebih berani, lebih aktif, dan lebih penuh cerita dibanding pertama kali.
Perjalanan pulang pun dipenuhi obrolan tentang film. Dia menceritakan ulang adegan favoritnya, menirukan dialog, dan tertawa sendiri. Aku hanya mendengarkan, sesekali menimpali. Dalam hati aku bersyukur. Bukan soal filmnya, bukan soal tempatnya, tapi soal waktu bersama.
Nonton bioskop bareng anak ternyata bukan cuma soal menonton layar besar. Tapi tentang menemani rasa ingin tahu, menjawab pertanyaan sederhana, dan menciptakan kenangan kecil yang suatu hari nanti mungkin akan dia ingat. Hari Sabtu itu, di Bencoolen XXI, kami tidak hanya menonton SpongeBob. Kami sedang menambah satu cerita kecil dalam perjalanan tumbuh kembangnya.
Dan bagiku, itu jauh lebih berharga daripada sekadar tiket bioskop.


Komentar
Posting Komentar